Ketapang, Kalbar - Jurnalindependennews.com, Pembangunan Puskesmas Rawat Inap Kendawangan, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, menjadi perhatian masyarakat. Selain persoalan penutupan Jalan Raden Sune, warga kini mempertanyakan dugaan penggunaan pasir pantai sebagai salah satu material dalam pekerjaan pembangunan fasilitas kesehatan tersebut.
Sorotan masyarakat terutama berkaitan dengan kesesuaian material terhadap spesifikasi teknis dan standar konstruksi yang telah ditetapkan dalam dokumen pekerjaan.
Sejumlah warga mengaku melihat material pasir yang digunakan di lokasi pembangunan dan menduga pasir tersebut berasal dari kawasan pantai.
Kondisi itu kemudian memunculkan kekhawatiran masyarakat terhadap kualitas material serta ketahanan bangunan yang nantinya akan digunakan sebagai fasilitas pelayanan kesehatan.
Warga menilai persoalan tersebut perlu mendapatkan perhatian serius karena pembangunan Puskesmas Rawat Inap menyangkut kepentingan dan keselamatan masyarakat dalam jangka panjang.
Warga Khawatir Kualitas dan Keselamatan Bangunan
Salah seorang warga mengungkapkan kekhawatirannya apabila material yang digunakan dalam pembangunan ternyata tidak memenuhi spesifikasi teknis yang dipersyaratkan.
“Yang kami khawatirkan kalau memang material yang digunakan tidak sesuai standar. Jangan sampai nanti bangunan sudah selesai, kemudian terjadi masalah pada konstruksi. Ini menyangkut keselamatan masyarakat,” ujar warga.
Menurut masyarakat, persoalan tersebut seharusnya tidak hanya menjadi perdebatan mengenai asal-usul pasir, tetapi perlu dibuktikan melalui pemeriksaan dan pengujian teknis terhadap material yang digunakan.
Redaksi menegaskan, dugaan penggunaan pasir pantai tersebut masih berupa keluhan dan kekhawatiran masyarakat.
Belum dapat disimpulkan bahwa material yang digunakan tidak memenuhi standar sebelum terdapat hasil pemeriksaan laboratorium, dokumen spesifikasi pekerjaan, maupun keterangan resmi dari instansi teknis yang berwenang.
Proyek Bernilai Rp8,7 Miliar
Sorotan terhadap material pembangunan semakin menjadi perhatian karena pekerjaan tersebut menggunakan anggaran APBD Kabupaten Ketapang Tahun Anggaran 2026.
Berdasarkan informasi yang disampaikan, pekerjaan pembangunan atau pengembangan Puskesmas Rawat Inap Kendawangan dilaksanakan oleh CV Multi Perkasa Sentosa sebagai kontraktor pelaksana.
Nilai pagu anggaran pekerjaan tercatat sebesar Rp8.779.782.000,00, dengan waktu pelaksanaan selama 120 hari kerja.
Dengan nilai pekerjaan yang mencapai miliaran rupiah tersebut, masyarakat berharap seluruh proses pembangunan dilaksanakan secara profesional dan transparan, termasuk memastikan setiap material yang digunakan sesuai dengan spesifikasi teknis dan ketentuan konstruksi.
Warga Minta Material Diverifikasi
Masyarakat meminta instansi teknis terkait melakukan pemeriksaan terhadap material yang digunakan dalam pembangunan, khususnya pasir yang menjadi sorotan.
Menurut warga, pemeriksaan diperlukan agar persoalan tersebut tidak berkembang menjadi spekulasi di tengah masyarakat.
Jika material yang digunakan telah memenuhi spesifikasi dan standar yang dipersyaratkan, masyarakat berharap pihak terkait dapat memberikan penjelasan secara terbuka sehingga kekhawatiran warga dapat terjawab.
Sebaliknya, apabila hasil pemeriksaan nantinya menemukan adanya material yang tidak sesuai dengan spesifikasi pekerjaan, masyarakat berharap dilakukan tindak lanjut sesuai ketentuan yang berlaku.
Bukan Menolak Pembangunan Puskesmas
Warga menegaskan bahwa sorotan terhadap material pembangunan bukan berarti masyarakat menolak pembangunan Puskesmas Rawat Inap Kendawangan.
Sebaliknya, masyarakat menyambut baik pembangunan fasilitas kesehatan tersebut karena diharapkan dapat meningkatkan pelayanan kesehatan bagi masyarakat Kendawangan dan sekitarnya.
Namun, dukungan tersebut diharapkan berjalan seiring dengan transparansi, kepatuhan terhadap spesifikasi teknis, pengawasan konstruksi, serta jaminan kualitas dan keselamatan bangunan.
Pasir Pantai Perlu Dipastikan Kelayakannya
Secara teknis, penggunaan pasir yang mengandung kadar garam atau klorida tinggi dalam konstruksi beton bertulang memang perlu mendapat perhatian. Kandungan klorida yang berlebihan dapat meningkatkan risiko korosi pada tulangan baja dan pada akhirnya memengaruhi durabilitas struktur.
Karena itu, persoalan yang muncul di lapangan sebaiknya tidak dijawab hanya berdasarkan pengamatan visual mengenai warna, bentuk, atau lokasi asal pasir. Pengujian laboratorium dan pemeriksaan kesesuaian material terhadap spesifikasi pekerjaan menjadi cara yang lebih tepat untuk memastikan kelayakannya.
Masyarakat pun berharap pengawasan terhadap proyek tersebut dilakukan secara terbuka. Sebab, Puskesmas Rawat Inap bukan sekadar bangunan biasa, melainkan fasilitas publik yang nantinya digunakan untuk memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat.
Kini publik menunggu penjelasan dari pihak pelaksana pekerjaan dan instansi teknis terkait: apakah material pasir yang digunakan telah sesuai spesifikasi, dari mana sumber material tersebut, serta apakah telah dilakukan pemeriksaan mutu sebelum digunakan dalam pekerjaan konstruksi.(Tim/Red)
Publis : Part
0 Komentar